Wednesday, 31 October 2012

Perahu Kertas The Movie: Lebih dari Sekadar Kisah Cinta

“Hai Neptunus, apa kabar di laut biru? Perahu kertas yang kali ini akan membawakanmu kisah tentang perjalanan hatiku…”
13451351481180556646
Poster film Perahu kertas
Layaknya sebuah film yang diangkat dari kisah novel, pasti banyak pembaca setia yang mengharapkan film dari novel kesayangannya akan sebagus imajinasi mereka. Begitu pula dengan Film Perahu Kertas adaptasi dari novel Dewi ‘Dee’ Lestari yang tayang serentak di bioskop pada 16 Agustus. Bagi saya, film adaptasi yang sama persis dengan novel justru tidak membuatnya menjadi karya yang menarik. Butuh sedikit perbedaan penafsiran, asal bukan di inti cerita, agar film menjadi medium yang berbeda untuk menampilkan kisah novel dengan mengangkat ide yang sama.
Ketika megetahui bahwa film Perahu Kertas disutradari oleh Hanung Bramantyo, ditambah Dee sebagai penulis skenario, saya yakin bahwa Perahu Kertas dalam medium film akan tetap ‘nikmat dan mengalir’ seperti novelnya. Perasaan itu saya buktikan malam ini. Begitu film usai, komentar pertama yang terlintas di benak saya adalah: Lihat filmnya, dengarkan musiknya, dan rasakan sensasinya. Sepertinya Hanung Bramantyo tidak banyak melakukan interpretasi terhadap film ini. Barangkali itulah alasan mengapa film Perahu Kertas dibagi menjadi dua bagian. Supaya filmnya terasa mengalir, memang seharusnya tidak banyak bagian cerita dari novel yang dipotong. Novel yang terdiri dari 434 halaman tentu saja cukup panjang jika harus dipaksakan menjadi satu cerita film yang rata-rata durasinya 120 menitan.
1345135205781624425
Kugy dan Keenan (sumber: hai-online.com)
Sinematografi dalam film ini juga apik. Adegan pembuka cukup memanjakan mata penonton dengan keindahan bawah laut dan deburan ombak. Sesuai dengan novelnya, dikisahkan seorang gadis bernama Kugy (Maudy Ayunda) yang akan menempuh kehidupan barunya sebagai mahasiswa di kota Bandung. Proses kepindahan Kugy dibantu oleh sahabatnya sejak kecil bernama Noni (Syvia Fully). Kugy yang memiliki hobi menulis dongeng memilih kuliah di jurusan Sastra. Oleh Noni dan pacarnya yang bernama Eko (Fauzan Smith), Kugy dinilai sebagai anak aneh yang memiliki hobi aneh pula, yaitu melarung perahu kertas.
Kugy kemudian bertemu dengan sepupu Eko yang bernama Keenan (Adipati Dolken). Salah satu dialog yang menurut saya menarik terjadi ketika Kugy bercerita mengenai rencana hidupnya setelah selesa kuliah di jurusan Sastra.
“Aku kuliah di Sastra. Kemudian lulus dan kerja sampai mapan. Setelah itu aku baru bisa jadi penulis dongeng”.
Tanggapan dari Keenan,”Oh kalau begitu kamu berputar dulu jadi orang lain, baru kamu kembali jadi diri kamu sendiri, begitu?”
Bagi Kugy, impian itu harus dikejar. Tapi ia juga realistis bahwa impiannya yang tak lazim bisa jadi akan membuat hidupnya menjadi sulit. Tapi setidaknya ia masih beruntung dizinkan kuliah di jurusan yang sesuai dengan minatnya. Keenan yang hobi melukis terpaksa masuk jurusan Ekonomi karena paksaan dari sang Ayah.
Pembaca novel Perahu Kertas tentu tahu bahwa kisah yang dihadirkan Dee berlapis tapi saling terkait. Awalnya saya tidak yakin kisah itu dapat disampaikan dengan cair dalam film. Tapi nyatanya, Hanung berhasil menyampaikan kisah yang berlapis itu dengan apik. Terhalangnya perasaan cinta Kugy dan Keenan karena situasi akhirnya membuat mereka saling menjauh satu sama lain. Kugy mulai menjauh ketika ada sosok wanita bernama Wanda (Kymberly Ryder) yang menyukai Keenan. Keenan pun mengalami konflik dengan ayahnya akibat pilihannya untuk berhenti kuliah dan menekuni dunia melukis.
Dalam rasa kehilangan, Kugy dan Keenan mulai menemukan sosok yang mencintai mereka. Remi (Reza Rahadian) untuk Kugy dan Luhde (Elyzia Mulachela) untuk Keenan. Ketika Kugy dan Keenan mulai mencintai pasangan mereka dalam ‘pelarian’, mereka justru harus dipertemukan oleh takdir.
134513527012048231
Lukisan Keenan (sumber: drupal.everywebspace.com)


Perahu Kertas adalah cerita cinta dalam arti yang luas. Kisah cinta antar pasangan manusia, dibalut konflik untuk mencintai impian mereka. Berusaha untuk menjadi diri sendiri, mengikuti kata hati, tanpa harus berubah jadi orang lain untuk sekadar mencintai. Seperti tema pada nover bestseller lain yang diangkat jadi fim, seperti Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara, kekuatan mimpi dan keyakinan itu tidak terbantahkan. Memang hal tersebut belum tergambarkan utuh dalam fim Perahu Kertas bagian pertama ini. Tapi saya punya harapan besar bahwa kekuatan itu akan muncul di bagian keduanya.
Sedikit bocoran, Hanung Bramantyo bersama Dee dan Titi DJ ikut ambil peran dalam film ini. Penasaran mereka bermain sebagai apa? Langsung saja lihat filmnya ya.
“Hai ‘Nus, manusia satu itu muncul lagi. Apa kabar ya dia? Tunggu perahu kertasku ya.. cerita ini belum usai…,” (Kugy)

Malaikat Tanpa Sayap, Tak Sekadar Cinta Remaja Berurai Air Mata

malaikat-tanpa-sayapLAGU “Malaikat Juga Tahu” milik Dewi Lestari mengalun di lobi bioskop jelang pemutaran perdana (premiere) film Malaikat Tanpa Sayap. Anda tentu ingat sepenggal lirik lagu Dewi Lestari yang cukup terkenal itu: “Karena kau tak lihat, terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.” Apa hubungannya dengan film Malaikat Tanpa Sayap?
Malaikat Tanpa Sayap bercerita tentang Vino (Adipati Dolken). Sedari awal film, diperlihatkan hidup Vino sedang berantakan. Terpaksa keluar dari SMA tempatnya belajar karena tidak mampu membayar iuran sekolah. Ketika pulang ke rumah kontrakannya yang sederhana, Vino harus menerima kenyataan bahwa Mirna (Kinaryosih), ibunya, meninggalkan rumah karena Amir (Surya Saputra), ayahnya, jatuh miskin. Kondisi diperparah saat Wina (Geccha), adik perempuan Vino yang berusia 5 tahun terjatuh di kamar mandi. Wina menderita luka yang fatal. Jika tidak segera dioperasi, Wina terancam diamputasi. Di sinilah ia bertemu dengan seorang calo (Agus Kuncoro) yang menawarkan bantuan. Calo ini siap membayar mahal jika Vino mau mendonorkan organ tubuhnya. Vino awalnya menolak. Mencoba mencari pinjaman, bahkan melakukan pencurian. Setelah usahanya sia-sia, Vino menerima tawaran sang calo. Dengan uang itu, selain biaya operasi adiknya, Vino juga mampu menebus rumah yang disita bank. Meski demikian, hal ini belum berhasil mencairkan hubungan Amir-Vino.
Di rumah sakit yang sama, Vino berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda), gadis yang seusia dengannya. Kehidupan Mura bisa dibilang berbanding terbalik dengan Vino. Hubungan Mura dan ayahnya (Ikang Fawzie) begitu hangat dan akrab. Berbeda dengan Vino yang kerap beradu argumen dengan Amir. Sebaliknya, Vino memiliki teman-teman yang tetap berhubungan baik meski telah putus sekolah. Sementara Mura yang mengikuti homeschooling, hanya bisa menjalin pertemanan melalui dunia maya.
Perbedaan ini rupanya menjadi kesempatan untuk saling melengkapi. Keduanya pun cepat akrab. Dampaknya, Mura lebih ceria menjalani hari. Sementara Vino, perlahan mulai peduli pada ayah dan adiknya. Kondisi berubah setelah calo menagih janji Vino untuk mendonorkan organ tubuhnya. Vino mendadak gamang, dan berniat mundur. Sementara down payment yang diberikan calo sudah terpakai untuk ini-itu. Bagaimana Vino menyelesaikan masalahnya? Siapa yang dianggap malaikat dalam film ini? Jawabnya bisa Anda temukan di akhir film, lengkap dengan alunan lagu “Malaikat Juga Tahu” milik Dewi Lestari.
**
Malaikat Tanpa Sayap rilis beberapa hari menjelang Valentine. Sudah jelas film ini menjadi salah satu pilihan kaum remaja yang hendak merayakan hari kasih sayang di bioskop. Pemilihan Adipati Dolken dan Maudy Ayunda terbilang tepat. Tidak perlu mengobral adegan ciuman, keduanya mampu menciptakan chemistry yang mantap.
Tapi film yang diproduksi StarVision ini tidak didominasi kemesraan Vino-Mura. Masalah keluarga yang dihadapi Vino juga mendapat porsi seimbang. Di sinilah Anda bisa melihat akting ciamik Surya Saputra. Karakter ayah galau bukan pertama kali diemban Surya. Dalam Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Surya juga dipercaya memerankan karakter ayah galau. Bedanya, di Malaikat Tanpa Sayap Surya tidak mengumbar airmatanya. Dengan intonasi dan ekspresi wajahnya, Surya berhasil menyiratkan ketidakberdayaan sekaligus egonya dalam menghadapi hubungan dengan istri dan putranya tidak harmonis.
Secara keseluruhan, tanggung jawab terberat dipegang oleh Adipati yang membawakan sosok Vino. Karena karakter inilah yang mempunyai problematika dengan setiap karakter lainnya. Malaikat Tanpa Sayap bukan film perdana Adipati. Sebelumnya ia pernah membintangi film Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, dan 18+. Ia juga mendukung sinetron Kepompong, Dia Jantung Hatiku, dan Aliya. Namun baru kali ini Adipati mendapat karakter yang dominan sepanjang film. Hasilnya cukup prima. Kalau pun ada yang mengganjal, adalah dialog-dialog filosofis Vino yang kelewat berat untuk diucapkan anak SMA.
Film yang skenarionya ditulis oleh Anggoro Saronto ini kerap menampilkan dialog puitis. Bukan berarti buruk. Malaikat Tanpa Sayap disutradarai Rako Prijanto. Di awal karier, Rako dikenal lewat film drama Ungu Violet dan Merah Itu Cinta. Belakangan, ia lebih aktif terlibat di komedi (baik komedi romantis, slapstick sampai dewasa) macam Roman Picisan, Benci Disko, Pengantin Sunat, sampai Perempuan-Perempuan Liar.
Nyaman di genre komedi, tak lantas membuat Rako kesulitan menghasilkan adegan-adegan yang mengundang haru ketika membesut film ini. Menariknya, tanpa adegan banjir airmata atau mewek berlebihan, Malaikat Tanpa Sayap justru berhasil memunculkan suasana haru dari dialog dan mimik wajah pemain.
Selamat datang kembali ke film drama, Rako. It feels much better.