JAKARTA – Kisah asmara Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken) di film Perahu Kertas terus berlanjut hingga Perahu Kertas 2.
Setelah
lama tak berjumpa, dua ‘agen Neptunus’ Kugy dan Keenan, bertemu kembali
di pernikahan sahabat mereka, Noni (Sylvia Fully) dan Eko (Fauzan
Smith). Dari situ, tumbuh kembali perasaan di antara keduanya.
Kehadiran
Keenan di Jakarta ternyata membuat Kugy hanyut dalam perasaannya yang
membingungkan, antara persahabatan dan cinta. Keenan mengajak hati Kugy
berlayar dengan membawanya ke pantai terindah, mengembalikan buku
catatan kisah ‘Jenderal Pilik’. Keduanya juga mengunjungi lokasi Sakola
Alit di Bojong Koneng.
Keenan berhasil menumbuhkan semangat Kugy
untuk menulis dongeng. Lama kelamaan, prestasi kerja Kugy merosot.
Hingga akhirnya dia dipecat oleh bos sekaligus kekasihnya, Remigius
(Reza Rahadian).
Tak berbeda dengan Kugy, Keenan juga hanyut
dalam perasaannya. Bahkan, dia sempat melupakan kekasihnya, Luhde (Elyza
Mulachela), yang mendadak datang dari Bali ke Jakarta hanya untuk
menemuinya.
Panjang cerita, Kugy akhirnya bertemu Luhde saat
wisata kantor di Bali. Kugy sangat mengagumi dan menyayangi sosok Luhde
yang polos, anggun, dan bersahaja. Saat ditunjukan foto Luhde pada Remi,
Remi pun langsung menyebut perempuan Bali itu sebagai kekasih Keenan,
pelukis favoritnya selama ini.
Remi tampak mantap merajut
cintanya ke jenjang serius. Dia memberikan sebuah cincin kepada Kugy
disaksikan ombak laut Bali yang romantis.
Saat mengetahui kekasih
Keenan, saat bersamaaan dia diberi cincin oleh Remi. Kugy merasa
bimbang. Dia memilih bersembunyi di rumah kakaknya, Karel (Ben
Kasyafani).
Keenan memberanikan diri bertemu Kugy dan
mengungkapkan isi hatinya. Namun dengan kondisi sama-sama memiliki
pasangan yang sangat disayangi, mereka mengikhlaskan cerita cinta tak
berkelanjutan.
Semua berjalan dengan baik, Keenan kembali ke Bali
untuk menjalani kehidupannya sebagai pelukis, dan melanjutkan kisah
asmaranya dengan Luhde. Sementara Kugy dan Keenan menjalani hubungan
asmaranya dengan baik-baik.
Sampai akhirnya Remi memutuskan
Kugy, karena dia merasakan Kugy tidak sepenuhnya mencintainya. Apakah
"radar" di antara Kugy dan Keenan akan mempertemukan cintanya kembali?.
Kebahagiaan itu hanya akan datang pada orang-orang yang ingin Membahagiakan Hidupnya
Saturday, 3 November 2012
Wednesday, 31 October 2012
Perahu Kertas The Movie: Lebih dari Sekadar Kisah Cinta
“Hai Neptunus, apa kabar di laut biru? Perahu kertas yang kali ini akan membawakanmu kisah tentang perjalanan hatiku…”
| Poster film Perahu kertas |
Ketika
megetahui bahwa film Perahu Kertas disutradari oleh Hanung Bramantyo,
ditambah Dee sebagai penulis skenario, saya yakin bahwa Perahu Kertas
dalam medium film akan tetap ‘nikmat dan mengalir’ seperti novelnya.
Perasaan itu saya buktikan malam ini. Begitu film usai, komentar pertama
yang terlintas di benak saya adalah: Lihat filmnya, dengarkan musiknya, dan rasakan sensasinya. Sepertinya
Hanung Bramantyo tidak banyak melakukan interpretasi terhadap film ini.
Barangkali itulah alasan mengapa film Perahu Kertas dibagi menjadi dua
bagian. Supaya filmnya terasa mengalir, memang seharusnya tidak banyak
bagian cerita dari novel yang dipotong. Novel yang terdiri dari 434
halaman tentu saja cukup panjang jika harus dipaksakan menjadi satu
cerita film yang rata-rata durasinya 120 menitan.
| Kugy dan Keenan (sumber: hai-online.com) |
Sinematografi
dalam film ini juga apik. Adegan pembuka cukup memanjakan mata penonton
dengan keindahan bawah laut dan deburan ombak. Sesuai dengan novelnya,
dikisahkan seorang gadis bernama Kugy (Maudy Ayunda) yang akan menempuh
kehidupan barunya sebagai mahasiswa di kota Bandung. Proses kepindahan
Kugy dibantu oleh sahabatnya sejak kecil bernama Noni (Syvia Fully).
Kugy yang memiliki hobi menulis dongeng memilih kuliah di jurusan
Sastra. Oleh Noni dan pacarnya yang bernama Eko (Fauzan Smith), Kugy
dinilai sebagai anak aneh yang memiliki hobi aneh pula, yaitu melarung
perahu kertas.
Kugy kemudian bertemu dengan sepupu Eko yang bernama Keenan (Adipati
Dolken). Salah satu dialog yang menurut saya menarik terjadi ketika Kugy
bercerita mengenai rencana hidupnya setelah selesa kuliah di jurusan
Sastra.
“Aku kuliah di Sastra. Kemudian lulus dan kerja sampai mapan. Setelah itu aku baru bisa jadi penulis dongeng”.
Tanggapan dari Keenan,”Oh kalau begitu kamu berputar dulu jadi orang lain, baru kamu kembali jadi diri kamu sendiri, begitu?”
Bagi
Kugy, impian itu harus dikejar. Tapi ia juga realistis bahwa impiannya
yang tak lazim bisa jadi akan membuat hidupnya menjadi sulit. Tapi
setidaknya ia masih beruntung dizinkan kuliah di jurusan yang sesuai
dengan minatnya. Keenan yang hobi melukis terpaksa masuk jurusan Ekonomi
karena paksaan dari sang Ayah.
Pembaca
novel Perahu Kertas tentu tahu bahwa kisah yang dihadirkan Dee berlapis
tapi saling terkait. Awalnya saya tidak yakin kisah itu dapat
disampaikan dengan cair dalam film. Tapi nyatanya, Hanung berhasil
menyampaikan kisah yang berlapis itu dengan apik. Terhalangnya perasaan
cinta Kugy dan Keenan karena situasi akhirnya membuat mereka saling
menjauh satu sama lain. Kugy mulai menjauh ketika ada sosok wanita
bernama Wanda (Kymberly Ryder) yang menyukai Keenan. Keenan pun
mengalami konflik dengan ayahnya akibat pilihannya untuk berhenti kuliah
dan menekuni dunia melukis.
Dalam
rasa kehilangan, Kugy dan Keenan mulai menemukan sosok yang mencintai
mereka. Remi (Reza Rahadian) untuk Kugy dan Luhde (Elyzia Mulachela)
untuk Keenan. Ketika Kugy dan Keenan mulai mencintai pasangan mereka
dalam ‘pelarian’, mereka justru harus dipertemukan oleh takdir.
| Lukisan Keenan (sumber: drupal.everywebspace.com)
|
Perahu
Kertas adalah cerita cinta dalam arti yang luas. Kisah cinta antar
pasangan manusia, dibalut konflik untuk mencintai impian mereka.
Berusaha untuk menjadi diri sendiri, mengikuti kata hati, tanpa harus
berubah jadi orang lain untuk sekadar mencintai. Seperti tema pada nover
bestseller lain yang diangkat jadi fim, seperti Laskar Pelangi
dan Negeri 5 Menara, kekuatan mimpi dan keyakinan itu tidak
terbantahkan. Memang hal tersebut belum tergambarkan utuh dalam fim
Perahu Kertas bagian pertama ini. Tapi saya punya harapan besar bahwa
kekuatan itu akan muncul di bagian keduanya.
Sedikit
bocoran, Hanung Bramantyo bersama Dee dan Titi DJ ikut ambil peran
dalam film ini. Penasaran mereka bermain sebagai apa? Langsung saja
lihat filmnya ya.
“Hai ‘Nus, manusia satu itu muncul lagi. Apa kabar ya dia? Tunggu perahu kertasku ya.. cerita ini belum usai…,” (Kugy)
Malaikat Tanpa Sayap, Tak Sekadar Cinta Remaja Berurai Air Mata
Malaikat Tanpa Sayap bercerita tentang Vino (Adipati Dolken). Sedari awal film, diperlihatkan hidup Vino sedang berantakan. Terpaksa keluar dari SMA tempatnya belajar karena tidak mampu membayar iuran sekolah. Ketika pulang ke rumah kontrakannya yang sederhana, Vino harus menerima kenyataan bahwa Mirna (Kinaryosih), ibunya, meninggalkan rumah karena Amir (Surya Saputra), ayahnya, jatuh miskin. Kondisi diperparah saat Wina (Geccha), adik perempuan Vino yang berusia 5 tahun terjatuh di kamar mandi. Wina menderita luka yang fatal. Jika tidak segera dioperasi, Wina terancam diamputasi. Di sinilah ia bertemu dengan seorang calo (Agus Kuncoro) yang menawarkan bantuan. Calo ini siap membayar mahal jika Vino mau mendonorkan organ tubuhnya. Vino awalnya menolak. Mencoba mencari pinjaman, bahkan melakukan pencurian. Setelah usahanya sia-sia, Vino menerima tawaran sang calo. Dengan uang itu, selain biaya operasi adiknya, Vino juga mampu menebus rumah yang disita bank. Meski demikian, hal ini belum berhasil mencairkan hubungan Amir-Vino.
Di rumah sakit yang sama, Vino berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda), gadis yang seusia dengannya. Kehidupan Mura bisa dibilang berbanding terbalik dengan Vino. Hubungan Mura dan ayahnya (Ikang Fawzie) begitu hangat dan akrab. Berbeda dengan Vino yang kerap beradu argumen dengan Amir. Sebaliknya, Vino memiliki teman-teman yang tetap berhubungan baik meski telah putus sekolah. Sementara Mura yang mengikuti homeschooling, hanya bisa menjalin pertemanan melalui dunia maya.
Perbedaan ini rupanya menjadi kesempatan untuk saling melengkapi. Keduanya pun cepat akrab. Dampaknya, Mura lebih ceria menjalani hari. Sementara Vino, perlahan mulai peduli pada ayah dan adiknya. Kondisi berubah setelah calo menagih janji Vino untuk mendonorkan organ tubuhnya. Vino mendadak gamang, dan berniat mundur. Sementara down payment yang diberikan calo sudah terpakai untuk ini-itu. Bagaimana Vino menyelesaikan masalahnya? Siapa yang dianggap malaikat dalam film ini? Jawabnya bisa Anda temukan di akhir film, lengkap dengan alunan lagu “Malaikat Juga Tahu” milik Dewi Lestari.
**
Malaikat Tanpa Sayap rilis beberapa hari menjelang Valentine. Sudah jelas film ini menjadi salah satu pilihan kaum remaja yang hendak merayakan hari kasih sayang di bioskop. Pemilihan Adipati Dolken dan Maudy Ayunda terbilang tepat. Tidak perlu mengobral adegan ciuman, keduanya mampu menciptakan chemistry yang mantap.
Tapi film yang diproduksi StarVision ini tidak didominasi kemesraan Vino-Mura. Masalah keluarga yang dihadapi Vino juga mendapat porsi seimbang. Di sinilah Anda bisa melihat akting ciamik Surya Saputra. Karakter ayah galau bukan pertama kali diemban Surya. Dalam Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Surya juga dipercaya memerankan karakter ayah galau. Bedanya, di Malaikat Tanpa Sayap Surya tidak mengumbar airmatanya. Dengan intonasi dan ekspresi wajahnya, Surya berhasil menyiratkan ketidakberdayaan sekaligus egonya dalam menghadapi hubungan dengan istri dan putranya tidak harmonis.
Secara keseluruhan, tanggung jawab terberat dipegang oleh Adipati yang membawakan sosok Vino. Karena karakter inilah yang mempunyai problematika dengan setiap karakter lainnya. Malaikat Tanpa Sayap bukan film perdana Adipati. Sebelumnya ia pernah membintangi film Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, dan 18+. Ia juga mendukung sinetron Kepompong, Dia Jantung Hatiku, dan Aliya. Namun baru kali ini Adipati mendapat karakter yang dominan sepanjang film. Hasilnya cukup prima. Kalau pun ada yang mengganjal, adalah dialog-dialog filosofis Vino yang kelewat berat untuk diucapkan anak SMA.
Film yang skenarionya ditulis oleh Anggoro Saronto ini kerap menampilkan dialog puitis. Bukan berarti buruk. Malaikat Tanpa Sayap disutradarai Rako Prijanto. Di awal karier, Rako dikenal lewat film drama Ungu Violet dan Merah Itu Cinta. Belakangan, ia lebih aktif terlibat di komedi (baik komedi romantis, slapstick sampai dewasa) macam Roman Picisan, Benci Disko, Pengantin Sunat, sampai Perempuan-Perempuan Liar.
Nyaman di genre komedi, tak lantas membuat Rako kesulitan menghasilkan adegan-adegan yang mengundang haru ketika membesut film ini. Menariknya, tanpa adegan banjir airmata atau mewek berlebihan, Malaikat Tanpa Sayap justru berhasil memunculkan suasana haru dari dialog dan mimik wajah pemain.
Selamat datang kembali ke film drama, Rako. It feels much better.
Saturday, 15 September 2012
Beginilah mereka menghancurkan kita, lalu bagaimana sikap kita…?!
Saif Al Battar
Ahad, 15 Juli 2012 14:36:28
Arrahmah.com/Muslimahzone.com - Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan permainan diulang kembali.
Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"
"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Bu Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."
"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang…"
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
***
Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At Taubah :32).
Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?
-Note From Brother Asep Juju-
(anna/muslimazone.com)
Saturday, 8 September 2012
10 Hal Yang Tidak Bisa di Beli Dengan Uang
Uang memang penting dalam kehidupan, tanpa alat tukar ini kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Uang membuat kita bisa melakukan banyak hal dibandingkan jika kita tak memilikinya. Tetapi sepenting-pentingnya uang, sebanyak apa pun pundi-pundi uang Anda, ada hal-hal yang tak bisa dibeli olehnya, antara lain:
1. Kehilangan waktu

Uang tak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang Anda pada orang tercinta, sebelum waktu itu berlalu.
2. Kebahagiaan

Memang kedengarannya klise, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Tapi inilah kenyataannya. Uang memang bisa membuat Anda merasa senang karena bisa membiayai liburan, membeli elektronik terkini, atau mobil paling cepat. Tapi setumpuk uang tak kan pernah bisa menghadirkan kebahagiaan yang nyata yang berasal dari dalam hati kita. Kebahagiaan jenis ini hanya datang dari hubungan yang membahagiakan serta dukungan dan cinta dari keluarga.
1. Kehilangan waktu
Uang tak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang Anda pada orang tercinta, sebelum waktu itu berlalu.
2. Kebahagiaan
Memang kedengarannya klise, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Tapi inilah kenyataannya. Uang memang bisa membuat Anda merasa senang karena bisa membiayai liburan, membeli elektronik terkini, atau mobil paling cepat. Tapi setumpuk uang tak kan pernah bisa menghadirkan kebahagiaan yang nyata yang berasal dari dalam hati kita. Kebahagiaan jenis ini hanya datang dari hubungan yang membahagiakan serta dukungan dan cinta dari keluarga.
3. Kebahagiaan Anak
Untuk memberikan sandang dan pangan yang layak kepada buah hati memang dibutuhkan uang. Tapi uang tak bisa memberikan rasa aman, tanggung jawab, sikap yang baik, serta kepandaian, pada anak-anak. Hal itu merupakan buah dari waktu dan perhatian yang Anda curahkan untuk mereka dan hal-hal baik yang Anda ajarkan. Uang memang membantu kita memenuhi beberapa aspek pengasuhan, tapi waktu telah membuktikan bahwa kebutuhan dasar tiap anak adalah berapa banyak waktu yang diberikan orangtuanya, bukan uangnya.
4. Cinta
Ini satu hal klise lainnya, cinta tak bisa dibeli dengan uang, tapi akuilah hal itu benar. Dengan uang kita bisa membuat orang tertarik, tapi cinta berasal dari rasa saling menghargai, perhatian, berbagi pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang bersama. Itu sebabnya banyak pasangan yang menikah karena uang, tak bertahan lama.
5. Penerimaan
Untuk diterima oleh lingkungan pergaulan, Anda tak butuh uang. Bila Anda ingin diterima, fokuskan energi Anda untuk membuat diri Anda berharga bagi lingkungan sekitar dengan menjadi teman dalam suka dan duka.
6. Kesehatan
Kita butuh uang untuk mengongkosi biaya perawatan dan membeli obat, tapi uang tak bisa menggantikan kesehatan yang hilang. Itu sebabnya pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati sebaiknya kita terapkan. Mulailah berolahraga, berhenti merokok, dan banyak hal lain yang pasti sudah Anda tahu.
7. Kesuksesan
Beberapa orang memang ada yang mencapai kesuksesan dengan menyuap, tapi ini adalah pengecualian. Kesuksesan hanya berasal dari kerja keras, kemauan, dan sedikit kemujuran. Ada aspek kecil dari usaha menuju sukses yang bisa didapatkan dengan uang, misalnya mengikuti pelatihan atau membeli peralatan, tapi sukses lebih banyak berasal dari usaha yang Anda lakukan sendiri.
8. Bakat
Kita dilahirkan dengan bakat tertentu. Dengan uang, yang bisa kita lakukan adalah mengasah bakat tersebut, misalnya belajar musik. Namun para ahli mengatakan, untuk menjadi ahli di bidangnya, kita membutuhkan bakat.
9. Sikap yang baik
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap atau manner seseorang.
10. Kedamaian
Bila uang bisa membeli kedamaian, barangkali kita tak lagi mendengar tentang perang. Justru yang sering terjadi sebaliknya, uang lah yang menjadi sumber pertikaian dan permusuhan.
maka dari itu, jangan sia-siakan hal diatas...
9. Sikap yang baik
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap atau manner seseorang.
10. Kedamaian
Bila uang bisa membeli kedamaian, barangkali kita tak lagi mendengar tentang perang. Justru yang sering terjadi sebaliknya, uang lah yang menjadi sumber pertikaian dan permusuhan.
maka dari itu, jangan sia-siakan hal diatas...
Gadis Kecil Dan Kotak Emas

Di sebuah keluarga miskin, seorang ayah tampak kesal pada anak perempuannya yang berusia tiga tahun. Anak perempuannya baru saja menghabiskan uang untuk membeli kertas kado emas untuk membungkus sekotak kado. Keesokan harinya, anak perempuan itu memberikan kado itu sebagai hadiah ulang tahun pada sang ayah. “Ini untuk ayah,” kata anak gadis itu. Sang ayah tak jadi marah. Namun ketika ia membuka kotak dan mendapatkan isinya kosong, meledaklah kemarahannya. “Tak tahukah kau, kalau kau menghadiahi kado pada seseorang, kau harus memberi sebuah barang dalam kotak ini!” Anak perempuan kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata terisak-isak, “Oh ayah, sesungguhnya aku telah meletakkan sesuatu ke dalam kotak itu.” “Apa yang kau letakkan ke dalam kotak ini? Bukankah kau lihat kotak ini kosong?” bentak ayahnya. “Oh ayah, sungguh aku telah meletakkan hampir ribuan ciuman untuk ayah ke dalam kotak itu,” bisik anak perempuan itu. Sang ayah terperangah mendengar jawaban anak perempuan kecilnya. Ia lalu memeluk erat-erat anak perempuannya dan meminta maaf. Konon, orang-orang menceritakan bahwa, pria itu selalu meletakkan kotak kado itu di pinggir tempat tidurnya sampai akhir hayat. Kapan pun ia mengalami kekecewaan, marah atau beban yang berat, ia membayangkan ada ribuan ciuman dalam kotak itu yang mengingatkan cinta anak perempuannya. Dan sesungguhnya kita telah menerima sebuah kotak emas penuh berisi cinta tanpa pamrih dari orang tua, istri/suami, anak, pasangan, teman dan sahabat kita. Tak ada yang lebih indah dan berharga dalam hidup ini selain cinta.
Harga Sebuah Ide

Berapa harga sebuah ide ?
Tak terkira ! Banyak kisah menarik mengenai harga sebuah ide ini. Dulu Eastman Kodak menolak idenya Edwin Land untuk membuat kamera 'photo instant'. Akhirnya Land memulai usahanya sendiri dan akhirnya Polaroid menjadi pesaing utama dari Kodak. Industri jam tangan di Swiss juga menolak ide penggunaan jam kuarsa (quartz watch). Jepang lah yang akhirnya menangkap ide ini dan menjadikan industri jam tangan Jepang merajai dunia. Industri jam Jepang ini yang membuat industri di Swiss terseok- seok dalam beberapa tahun. Nah itulah artinya seberapa potensi harga sebuah ide Kita semua sebenarnya memiliki ide- ide brillian. Tetapi tidak banyak yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan idenya. Hal yang paling mengganjal adalah bahwa kita selalu saja berpikir bahwa ide kita merupakan ide bodoh, ide ini tidak bakalan disukai orang, ide ini sudah pernah diketemukan orang lain, atau bahkan pasti ada orang lain yg memiliki ide lebih bagus dari ide yg kumiliki. Nah, cobalah untuk membuka penutup ide-ide ini dengan beberapa logika saja, seperti biasa ajakan saya untuk berlogika. Paling tidak ada tiga cara sederhana untuk menggali dan mengungkap ide ini. Rubah cara berpikir ! Kalau kita berpikir bahwa kita ini tikus, maka tikuslah kita. Kita tidak perlu menjadi seorang ahli untuk mempunyai ide yg brillian. Tahukah anda bahwa Kodakfilm Chrome dikembangkan oleh seorang musisi. Ballpoint yg kita pakai menulis ditemukan oleh seorang pematung. Meter parking, alat untuk membayar parkir, ditemukan oleh seorang jurnalis. Penemu pesawat Wright bersaudara adalah ahli sepeda "onthel", bukan sarjana aeronautica'. Einstein awalnya adalah ahli matematika juga bukan seorang ahli fisika yg menjadikannya tenar. Dan anda pasti tau Darwin yg mempunyai ide evolusi kan ? .. Darwin adalah seorang ahli geologi bukan ahli biologi. Anda mungkin pernah membaca bukunya Stephen Covey, yang menyebutkan bahwa segalanya ini diciptakan dalam dua tahap. Pertama dalam sebuah ide di benak si penemu, kemudian direalisasikan, dalam sebuah pabrik atau industri, baik industri besar atau bahkan industri kecil atau rumah tangga atau hanya berupa tulisan seperti idenya evolusi Darwin. Leonardo daVinci merupakan seorang penemu besar dan juga seorang pelukis. Awalnya dia melihat idenya dalam benaknya yang kemudian digambarkannya dalam kanvas dan seorang lain merealisasikannya. Leonardo lah yang menemukan helicopter, tank perang, payung terjun (parachute), sepeda air, snorkel untuk menyelam, dan masih banyak lagi. Semua itu diketemukan pada tahun 1400an hingga awal 1500an. Ide- Dimulai dari pemikiran. Mulailah berpikir bahwa anda adalah seorang penemu dan saatnya sudah dimulai dari sekarang ! Rubah cara bicara ! "Ah ini tidak mungkin dijalankan. Tidak ada yg suka dengan ide ini. Aku sudah mencoba sebelumnya dan tidak berhasil. Tidak ada yg baru didunia ini semua sudah ada". Semua kalimat-kalimat ini merupakan "idea blocker" yang harus segera disingkirkan. Rubahlah dari … sekarang ! Jangan katakan "Tidak mungkin", tapi katakan saja ïƒ "Sebenernya enak kalau bisa dilakukan". Jangan ngomong "Ide goblok", tetapi "Bagus juga sih, bagaimana merealisasikannya, ya?" Bukan hanya sekedar menyatakan "Cukup bagus sih!", namun coba tambahkan "Bagaimana cara mengembangkannya ya ?" Ada sebuah kisah seorang ahli agama di Jerman yang pernah mengkritik penggunaan sendok-garpu karena tidak menghargai Tuhan yg menciptakan tangan. Tentunya anda tidak perlu berpikir seperti dia yg konon ceritanya akhirnya tangannya terbakar makanan panas. Kekuatan kata-kata itu sangat besar !. Dia memiliki kekuatan untuk menciptakan atau merusak. Berbicaralah dengan kreatif mulai hari ini. Rubahlah bahasamu, ia akan merubahmu. Rubahlah perilaku ! Berapa diantara kita yang melewati jalan yang sama untuk berangkat dan pulang kantor ? Tiap hari hampir 98% diantara kita akan melewati jalan yang sama ketika ke kantor, kesekolah, belanja selama satu tahun penuh hampir diulang-ulang dalam 365 hari setahun ! Ngga bosen, tuh ? Seseorang pernah berkata bahwa kalau anda melakukan hal yang sama berulang-ulang berarti anda termasuk malas tidak mau berfikir. Tentunya tidak perlu otak kalau menjalankan pesawat dengan "autopilot", kan ? Jadi jangan malas berpikir, otak kita masih banyak kapasitasnya yang terpakai karena melakukan hal yang rutin-rutin saja. Amsukkan data baru, masukkan input baru, beri gangguan sedikit supaya prosesor di dalam otak kita bekerja. Kreatif dimulai dari perubahan ! Ada yg mengatakan bahwa ada tempat tertentu yg paling sering dipakai untuk menggali ide, yaitu di TOILET !. Masih ingatkah anda cerita Archimides yang loncat dari 'bath tub' terus berlarian sambil teriak Eureka ! Eureka ! dia waktu itu kan telanjang sambil lari-lari ! Tentunya aku bukan bermaksud mengajak anda untuk memindahkan ruang kerja ke toilet kan, tetapi untuk memulai menggali ide mulailah dengan mengerjakan sesuatu dengan berbeda…. Ya berdeba, sekedar berdeba saja. Cobalah nanti kalau pulang dari kantor dan besok pagi kalau berangkat kantor melewati jalan yang lain. Bukan lagi melewati jalan yang sudah tiap hari kita lewati. Cobalah melewati pintu yang berbeda ketika masuk kantor atau masuk rumah. Mau yang 'rada' aneh, cobalah menulis dengan tangan kiri ! atau Coba bacalah tulisan ini sekali lagi dengan mata kiri ditutup ! Atau bacalah dari bawah ke atas.
Subscribe to:
Posts (Atom)