Beberapa guru, terutama ketika menangani audiens yang lebih umum, atau campuran kelompok Muslim dan non-Muslim, membuat ekstensif menggunakan perumpamaan, alegori, dan metafora. Meskipun pendekatan antara sufi berbeda, secara keseluruhan Sufisme selalu berkaitan dengan pengalaman pribadi langsung, dan oleh karena itu kadang-kadang dibandingkan dengan lainnya, bentuk-bentuk non-Islam mistik (misalnya, seperti dalam buku-buku Sayyed Hossein Nasr).
Awalnya, kekhasan sufi adalah tinggal di masjid dan mengajar sekelompok kecil murid. Sejauh mana Sufisme dipengaruhi oleh Hindu Buddha dan mistisisme, dan contoh pertapa Kristen dan rahib, diperselisihkan. Pada tahap awal pengembangannya, tasawuf dimaksudkan tidak lebih dari sekadar internalisasi Islam. Menurut satu perspektif, tasawuf adalah interprestasi secara langsung dari Al Qur’an, terus membacanya, dan menyepi atau memisahkan dari dunia luar.
Dari sudut pandang Sufi tradisional, ajaran-ajaran Sufisme diyakini hanya terjadi pada mereka yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan pengalaman langsung dari Tuhan, yang diturunkan dari seorang guru kepada muridnya selama berabad-abad. Uwais al-Qarni, Harrm bin Hian, Hasan Basri dan Sayid bin Al-Mussib dianggap sebagai Sufi pertama di generasi awal Islam. Harits al-Muhasibi adalah orang pertama yang menulis psikologi tentang moral. Rabia Basri dikenal sufi yang cinta dan semangat hidupnya untuk Allah, dan dinyatakan melalui puisinya. Dan Bayazid Bustami merupakan salah satu teoretisi pertama tasawuf.
Sufisme memiliki sejarah panjang sebelum berubah menjadi ajaran tariqat pada Abad Pertengahan awal. Gaya dan tradisi sufisme yang dikembangkan dari waktu ke waktu, mencerminkan perspektif yang berbeda.
Praktik-praktik Sufi sangat bervariasi. Hal ini karena berhubungan erat dengan doktrin seorang guru tertentu. Konsensus yang berlaku di antara para pelaku tasawuf adalah bahwa para pencari atau penganutnya tidak dapat menuntun dirinya sendiri, dan selalu sangat berbahaya untuk melakukan salah satu praktik sendirian.
Sebagian berpendapat dalam Islam, bahwa tasawuf adalah menyimpan dunia di tangan, bukan di hati. Artinya, urusan dunia tetap dijalankan tapi untuk tujuan akhirat, bukan tujuan akhir. Tetapi pada perkembangannya, banyak juga para sufi yang malah benar-benar meninggalkan urusan dunia sepenuhnya, dan hanya fokus pada urusan akhirat saja.
No comments:
Post a Comment