Monday, 22 June 2015

Surat dari seorang ibu untuk anaknya yang kelak akan jadi mahasiswa


Assalamu'alaikum wr wb
Surat ini kutulis dengan hati berbunga. Rasanya terllu cepat kau menginjak dewasa. tampak matang kau ketika bersibuk mempersiapkan diri, cari tempat tinggal baru. Waktu kadang seperti sebilah kilatan cahaya. Melesat meninggalkanku bersama guratan kenangan. Ingatku padamu nak, tak bisa dihapus usia: semasa kecil kau sekolah TK. Ada rasa takut saatpertama ku antar kau kesana. Tapi guru TK itu memberi uluran senyum, menyapa seakan beri percaya. Hingga kuyakin kau berada di tangan pendidik yang selalu bahagia. Rekaman itu berulang-ulang ku saksikan diantara foto-foto TK mu yang lucu. Olehmu, aku kau buat lupa sulitnya membesarkanmu seorang diri. Sejak SD kau sudah pintar menyebut nama Ibu Kota hingga lagu kebangsaan fasih kau lagukan. Di SMP hapalannya sampai menyebut apa itu tugas MK, di SMU lebih hebat lagi: kau utarakan pendapat tentang keadaan. Hari ini ku lihat kau bukan anak kecil lagi yang takut pada kenyataan. Sesekali aku kuatir dan cemas jika kau nanti dapat nilai buruk tapi kenyataanya telah paksa aku belajar bahwa hidup itu sandarannya adalah sabar dan kekuatannya ada di rasa percaya. Tak terasa kini kau sudah mahasiswa.
Maka pesanku nak: Jangan engkau menjadi mahasiswa seadanya. Hanya menjalani kegiatan sekedarnya: kuliah, pulang, dan bercanda. Kau istimewa bagi ku, maka jadikan hari-harimu istimewa disana. Hiruplah udara petualangan dengan belajar untuk menjadi dewasa. Ciri seorang dewasa adalah berani, punya prinsip dan tak ragu mencoba. Kalau kau bertemu orang sedang susah maka bantulah dan belalah mereka, kalau kau liat ada kekejian maka lawanlah dan hadapi takutmu itu. Sikap itu yang konon membuat mahasiswa dianggap agent of change sikap itu yang membuat mahasiswa dianggap pendobrak kemapanan. Aku bangga kalau kau mampu tunaikan harapan itu nak.  Harapan yang tak sampai aku tuju ketika harus membesarkanmu.
Itu sebabnya nak pandai-pandailah menjaga diri. Jangan terlalu larut dengan kehidupan kampus yang memuja penampilan, juga jangan terlalu cemas ketika melihat keadaan sehingga kau kucilkan dirimu dan mengutuk semuanya. Terlibatlah dalam kehidupan sebagai sebagai anak muda optimis , kritis dan meberi pengaruh positif, jika perlu ajaklah teman-temanmu untuk belajar tidak di kelas tetapi datangilah mereka yang dilanda kesusahan, belajarlah dari mereka bagaimana mereka mengatasi permasalahan hidup ini. Apabila mereka tidak mampu lagi maka kaulah sebagai agent of change harus mengambil tindakan. Sering-seringlah bergaul dengan orang pemberani agar semangat beraninya itu bisa tersalurkan kepadamu dan tumbuh didirimu , seperti kata pepatah bahwa orang yang tinggal dekat penjual bunga maka dia akan berbau seperti penjual bunga tersebut. Saya harap kamu mampu untuk menjadi sosok yang pemberani yang mampu untuk membelah yang benar dan menyalakan yang salah. Aku tak bisa selesaikan kuliahku karena kehadiranmu. Dan aku tak menyesal karena karena kau adalah pelajaran paling beharga dan bernilai yang pernah kudapatkan. Kau adalah toga kebahagiaan hidupku. Dalam usia 5 bulan di perutku, aku sempat merindui masa-masa ketika aku jadi mahasiswa sepertimu. Tetapi Brecht dengan lantang menghardik pikiranku :
Disana kau duduk dan berapa banyak darah ditumpahkan
Hingga kau dapat duduk disana. Apa cerita semacam ini buat aku bosan?
Baiklah, jangan lupa ada orang lain duduk disitu sebelum kau yang kemudian malah duduki orang lain.
Angkat kepalamu! Ilmumu itu tak akan bernilai, kelak kau tau
Dan pelajaran itu akan mandul, kalau kau oikir menyenangkan.
Kecuali kau ikrarkan kepandaianmu untuk berjuang melawan musuh-musuh kemanusiaan.
Jangan pernah lupa manusia seperti kau yang terluka karena kkau bisa duduk disini sementara banyak yang lain tidak.
Dan sekarang jangan kau tutup matamu dan jangan kabur.
Tetapi belajarlah untuk mempelajari, dan cobalah mempelajari untuk apa kau belajar.
            Sekarang aku tak lagi menemanimu seperti masa TK dulu. Aku tak sanggup lagi menggenggam tanganmu untuk ku ajak kamu melihat kegembiraan seperti waktu kecil dulu. Kini saatnya kau genggam tangan-tangan kawanmu, rakyatmu kebanyakan yang sedang mengalami kesulitan: buruh yang digaji kecil, petani yang disita tanahnya, pedagang kecil yang digusur lapaknya, nelayan yang susah hidupnya, perempuan yang jadi korban KDRT dan tkw yang sering jadi korban kekeran diluar negeri, orang-orang yang entah kenapa tak boleh beribada dengan tenang atas keyakinannya.
Kelak aku bisa cerita pada yang lain kalau anakku bukan sekedar mahasiswa, anakku belajar jadi dewasa di perguruan tinggi: punya sikap dan tak ragu berkorban untuk sesama. Anakku bukan duduk dikampus saja tapi di belantara kehidupan rakyat yang kini mengalami derita. Tugasku hampir selesai, sekarang kulepas kau bukan pada guru yang penuh perhatian, tempat yang padat aturan, tapi kehidupan mahasiswa yang sarat petualangan. Tak sabar aku tunggu kabar petualangan darimu wahai anakku.
Nak, tak perlu berterimakasih tapi sampaikan rasa terima kasihmu pada rakyat kecil yang akan memberimu pelajaran tentang kebenaran dan perjuangan. Juga minta perlindungan dariNya sehingga kau diberi kekuatan Iman, Harapan dan Keteguhan. Tuhan akan selalu menyertai siapa saja anak muda yang teguh memegang kebenaran dan berani memeprjuangkannya.
Selamat berjuang nak, doaku selalu menyertai hari-harimu
Waalaikumsalam. wr.wb

Aku,
Ibu yang selalu mencintai dan menyayangimu selamanya.

Eko Prasetyo dan Zely Ariane


No comments:

Post a Comment