Thursday, 6 September 2012

Anak Kecil & Waktu

Seperti biasa Rudi, kepala cabang di
sebuah perusahaan swasta terkemuka
di Jakarta, tiba di rumahnya pada
pukul 9 malam. Tidak seperti
biasanya, Imron, putra pertamanya
yang baru duduk di kelas dua SD yang
membukakan pintu. Ia nampaknya
sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil
mencium anaknya.
Biasanya, Imron memang sudah lelap
ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi
hari.
Sambil membuntuti sang ayah
menuju ruang keluarga, Imron
menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang.
Sebab aku mau tanya berapa sih gaji
Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah?
Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri.
Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap
bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja,
Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan
berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan
pensilnya dari meja belajar,
sementara ayahnya melepas sepatu
dan menyalakan televisi. Ketika Rudi
beranjak menuju kamar untuk
berganti pakaian, Imron berlari
mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp
400.000,- untuk 10 jam, berarti satu
jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,”
katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang
cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak.
Sambil menyaksikan ayahnya berganti
pakaian, Imron kembali bertanya,
“Ayah, aku boleh pinjam uang Rp
5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam
lagi. Buat apa minta uang malam-
malam begini? Ayah capek. Dan mau
mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya
mengejutkan Imron.
Anak kecil itu pun berbalik menuju
kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak
menyesali hardikannya, Ia pun
menengok Imron di kamar tidurnya.
Anak kesayangannya itu belum tidur.
Imron didapatinya sedang terisak-isak
pelan sambil memegang uang Rp
15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus
kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang
sama Imron. Buat apa sih minta uang
malam-malam begini? Kalau mau beli
mainan, besok’ kan bisa. Jangankan
Rp 5.000 ,- lebih dari itu pun ayah
kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku
pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan
selama minggu ini.”
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi
lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku
mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga
puluh menit saja. Ibu sering bilang
kalau waktu Ayah itu sangat berharga.
Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku
buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.
Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah
dibayar Rp 40.000,-, maka setengah
jam harus Rp 20.000,-. Duit
tabunganku kurang Rp 5.000,-.
Makanya aku mau pinjam dari Ayah,”
kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.


No comments:

Post a Comment