Kaum muslim layak berbangga atas
prestasinya. Ia telah mengguncang
dunia dengan teori fisikanya. Ia juga telah mengangkat harga diri
masyarakat Islam dan dunia ketiga.
Meski di negerinya sendiri
ditelantarkan, ia tak kecil hati. Dunia
fisika terus ia geluti. Dunia sosial tak lupa ia cicipi. Ia bukanlah tipe
intelektual yang tinggi hati. Kerja
kerasnya berbuah. Ia berhasil
menciptakan teori yang membuat
orang terperangah. Penghargaan
Nobel Fisika pun ia terima sebagai
anugerah. Dialah muslim pertama
peraih Nobel Fisika sepanjang sejarah.
Sosok fenomenal itu bernama Abdus
Salam. Ia dilahirkan pada 29 Januari
1926, di Jhang, Pakistan. Ayahnya,
Hazrat Mohammad Hussein, adalah
seorang pegawai Dinas Pendidikan.
Keluarganya dikenal alim dan saleh.
Sejak kecil, Salam diajar dalam tradisi
pendidikan yang kuat. Ia dikenal
cerdas dan cepat mengingat. Suatu
ketika, Hussein pernah bermimpi. Ia
melihat Salam menaiki pohon yang
sangat tinggi. Ketiga ditegur, Salam
meyakinkan: “Don’t worry”. Ia terus
naik sampai tak kelihatan lagi. Hal ini
nampaknya menjadi tanda. Salam
mempunyai kemampuan yang luar
biasa.
Dan demikianlah adanya. Hampir tiap
malam, ibunya membacakan doa
kepada salam dan saudaranya. Suatu
ketika, ia diinterupsi Salam. Salam
mengatakan, ia sudah tahu dan hafal.
Tak perlu baginya diulang-ulang.
Akhirnya, ibunya sadar. Salam
mempunyai kemampuan fenomenal.
Salam dengan mudah dan tepat
menghafal keseluruhan surat al-
Quran.
Ia masuk sekolah dasar di Jhang
dalam usia 6 tahun. Namun, sungguh
mencengangkan. Ketika dites, Salam
menunjukkan kecerdasan yang tak
diragukan. Kepala Sekolah pun
langsung menyuruhnya masuk kelas
empat. Di sini, Salam tak menemukan
kendala berat. Meski dicampur
dengan siswa yang lebih tua darinya,
ia tetap mengkilat. Atas keajaiban anak
ini, Hazrat Hussein yakin, sekolah lokal
tidak akan cukup menampungnya.
Ayahanda Salam pun berusaha sekuat
tenaga untuk mengirim Salam ke
sekolah negeri yang lebih mumpuni.
Sebab itu, Salam dikirim ke Lahore,
1938. Kota ini terkenal karena
mahakarya di bidang arsitektur
Muslim abad pertengahan. Di sana,
Salam banyak belajar dan
menemukan hal baru yang tak ada di
desanya. Lampu listrik adalah
contohnya. Ia sangat kagum atas hal
ini. Ia pun bertekad belajar giat.
Di Lahore, kembali kecerdasan Salam
terdeteksi. Salam mengikuti ujian
matrikulasi di Punjab University. Ia
lulus dengan pujian pada 1946. Salam
tercatat sebagai siswa dengan nilai
teratas dalam segala mata ujian. Atas
prestasinya itu, ia memperoleh
beasiswa untuk melanjutkan
pendidikan ke Cambridge University,
Inggris. Pada 1949, ia memperoleh
gelar MA dengan pujian tertinggi di
bidang matematika dan fisika.
Semenjak itu, cendekiawan muda ini
sibuk dengan penelitian awal dalam
bidang Fisika Kuantum di
Laboratorium Cavendish yang
terkenal. Laboratorium ini telah
banyak menghasilkan lusinan peraih
Nobel. Di Cavendish, Salam meneliti
berbagai fenomena dan proses
alamiah seperti pembelahan nukleus,
formasi bintang- bintang neutron,
pembentukan komposisi kimiawi dan
struktur dari spiral DNA, cara kerja
transistor semi konduktor, laser dan
sebagainya.
Pada 1950, ia memperoleh peng
hargaan Smith’s Prize dari Cambridge
University atas tesisnya tentang elek
trodinamika kuantum. Tesisnya
dianggap telah memberikan
kontribusi besar dalam bidang fisika.
Dia juga berhasil menyabet gelar PhD
dalam bidang fisika teori pada saat
yang sama. Tesisnya dipublikasikan
pada 1951. Serta-merta, tesis itu
mengangkatnya menuju belantara
intelektual internasional. Ia pun
menjadi fokus perhatian seluruh
komunitas fisika dunia. Untuk itu, ia
memperoleh berbagai penawaran
menggiurkan di Eropa.
Namun, Salam memilih kembali ke
negerinya. Ia mengajar matematika di
Government College, Lahore. Setahun
kemudian, ia dilantik menjadi Ketua
Departemen Matematika di Punjab
University. Ia bermaksud mendirikan
sekolah riset bagi para ahli fisika di
Pakistan. Namun, ia sadar, hal itu tak
mungkin dilakukan. Tidak ada tradisi
kerja dan riset pascasarjana di situ.
Jurnal tak punya. Kesempatan
menghadiri konferensi internasional
pun tak ada. Malah, ia dituduh hendak
membangun hotel berbintang lima
bagi para ilmuwan di sana. Kepala
institusi tempat Salam bekerja juga tak
berdaya. Meski tahu bahwa Salam
sudah mengerjakan sejumlah riset
yang luar biasa, Kepala tersebut justru
menganjurkan untuk melupakan
obsesinya.
Salam bertahan di Lahore selama tiga
tahun. Namun, kondisi yang tak
kondusif meyakinkannya bahwa di
Pakistan, saat itu, sangat tidak
mendukung riset-riset fisika. Akhirnya,
dengan berat hati, Salam
meninggalkan Pakistan pada 1954. Ia
menerima tawaran mengajar dan riset
di Cambridge University. Di situ, ia
menemukan kembali dunianya yang
hilang. Ia kembali bergelut dan
bercinta dengan fisika. Tiga tahun
kemudian, tepatnya 1957, Salam
dilantik sebagai Profesor Fisika Teori di
Imperial College, London. Sejak itu,
secara aktif, ia meretas jalan ke riset
berbagai bidang fisika modern. Studi
yang dilakukannya mendapat
penghargaan berbagai premium
internasional.
Meski hasrat intelektualnya telah
tersalurkan, Salam tak tinggal diam.
Kegundahan atas kondisi Pakistan dan
masyarakat dunia ketiga umumnya,
terus menggelayutinya. Ia pun berpikir
keras untuk membantu mereka.
Sebab, tak mungkin muncul
penemuan penting ketika tak ada
fasilitas yang mendukung. Para
peneliti di sana pun tak akan
berkembang. Jauh ketinggalan dengan
para peneliti di Eropa dan negara
maju lainnya. Ia pun bermaksud
mendirikan lembaga internasional
yang akan mewadahi intelektual
berbakat dari dunia ketiga tanpa harus
meninggalkan negerinya sendiri
seperti dialami Salam.
Karena itu, Salam mendesak kolega-
koleganya di Eropa dan Amerika untuk
mendirikan lembaga seperti yang
diimpikannya. Atas bantuan PBB,
khususnya Lembaga Energi Atom
Internasional, pemerintah Italia dan
SIDA (Swedish Agency for
International Development)
didirikanlah ICPT (International Centre
for Theoritical Physics) di Trieste, Italia
pada 1964. Salam sendiri ditunjuk
sebagai direkturnya. Pendirian ICTP
itu, menurut Herwing Schopper,
presiden Masyarakat Fisika Eropa,
merupakan salah satu pencapaian
terbesar abad ke-20.
Satu obsesinya telah tercapai. Praktis,
semenjak itu ia tenggelam dalam
penelitian. Secara tekun, Salam mulai
mempelajari hukum dasar dari
elektromagnetisme yang pertama kali
ditemukan oleh Faraday dan Maxwell,
lama sebelumnya. Salam menggeluti
masalah interaksi tiga daya kekuatan
elektromagnetik, daya lemah dan daya
kuat dari nuklir. Untuk itu, Salam harus
‘membantah’ salah satu postulat fisika
nuklir modern yang diterima umum
tentang kekuatan dan
ketidakterbaginya proton yang
merupakan komponen utama dari
nukleus nuklir. Hasilnya, Salam
mengajukan suatu hipotesa yang
berani. Menurutnya, proton (yang
menyimpan kekuatan nukleus dari
sebuah atom) bisa saja mengalami
disintegrasi. Hanya saja, durasi
peluruhan proton ini memerlukan
periode waktu yang astronomis, yakni
1032 tahun.
Dari situ, Salam berhasil membuat
gambaran konstruksi dari suatu teori
yang menggabungkan
elektromagnetisme dengan interaksi
lemah dari partikel nuklir yang
terkenal dengan “Grand Unification
Theory”. Albert Einstein sendiri yang
dikenal sebagai “Nabi” Fisika tak
berhasil menciptakan teori tersebut
sepanjang hidupnya. Ialah orang
pertama yang memprediksi decay
(peluruhan) dalam rangkaian interaksi
nuklir lemah. Muncullah istilah baru
yaitu ‘Electroweak’ (lemah elektro)
dalam dunia fisika nuklir. Atas
penemuan besar ini, Salam berhak
atas Nobel Fisika pada 1979.
Konon, penemuan grand unification
theory itu terinspirasi dari keyakinan
Salam bahwa segala sesuatu
terpancar dari satu sumber, yakni
Tuhan. Maklum, Salam adalah
agamawan taat. Dalam tiap
kesempatan, ia selalu berujar, al
Qur’an telah menyediakan segala-
galanya untuk eksplorasi alam. ‘’Al
Quran membimbing kita dalam
memahami seluruh hukum alam
ciptaan Allah,’’ tulisnya. Karena itu,
pada saat penghargaan Nobel, Salam
mentilawahkan beberapa ayat dari al-
Quran dalam pidatonya di aula Nobel
Hall. Inilah pertama kalinya dalam
sejarah, di aula itu, diperdengarkan
ayat-ayat al-Quran.
Sebelum meraih Nobel, berbagai
penghargaan telah disabet Salam atas
prestasi fisikanya. Pada 1971, secara
aklamasi, ia terpilih sebagai anggota
dari USSR Academy of Science. Pada
tahun yang sama, ia juga berhak atas
hadiah Premium Robert
Oppenheimer. Ia juga berhasil
merebut medali Einstein (UNESCO,
Paris) dan Birla Premium (India).
Berbagai penghargaan itu terasa
wajar karena prestasi Salam yang
sangat luar biasa. Namun, Nobel tak
menghentikannya untuk terus
berkiprah. Pada 1983, ia memperoleh
penghargaan Lomonosov Gold Medal
yang merupakan penghargaan
tertinggi dari USSR Academy of
Science. Pada tahun itu juga, Salam
mendirikan dan menjadi presiden The
Third World Academy of Sciences, dan
presiden pertama The Third World
Network of Scientific Organizations
(1988).
Sebagai wujud kepedulian atas carut
marut kondisi dunia, Profesor Abdus
Salam turut mengambil bagian dalam
sebuah konferensi internasional di
Moskow mengenai pengurangan
senjata nuklir pada 1987. Di
konferensi itu, secara tegas, ia
mendukung larangan penggunaan
senjata pemusnah massal. Ia selalu
menghimbau komunitas dunia agar
memanfaatkan potensi studi tenaga
nuklir hanya untuk tujuan damai dan
konstruktif saja.
Berbagai pujian dan penghargaan
terus mengucur. Tahun 1992, rektor
dari St Petersburg University secara
khusus berkunjung ke Trieste, Italia,
untuk menyampaikan Diploma
Honorer Doctor of Science dari
universitas tersebut kepada Profesor
Salam. Di tahun 1995, setahun
sebelum meninggal, ia mendapat
penghargaan Maxwell di Inggris serta
medali emas yang diberikan oleh
Akademi Pekerja Kreatif Rusia.
Semasa hidupnya, Abdus Salam telah
menghasilkan banyak karya. Salam
telah menulis berpuluh-puluh buku
dan monograf ilmiah. Ia juga menulis
lebih dari tiga ratus artikel mengenai
problema paling kompleks dari fisika
nuklir serta permasalahan aktual
mengenai persiapan ilmuwan muda
di negara-negara berkembang. Atas
dedikasinya, ia ditunjuk sebagai
anggota dari sekitar 50 lembaga ilmiah
akademisi, di samping beberapa
asosiasi ilmiah dunia. Ia mendapat 20
penghargaan internasional dan
medali emas di bidang fisika.
Termasuk Nobel Prize itu sendiri.
Sedikit sekali ahli fisika di abad
duapuluh yang pernah menerima
penghargaan dan pengakuan dunia
sebagaimana Salam. Di antaranya
adalah Albert Einstein, Ernest
Rutherford dan Niles Bore.
Salam meninggal pada 20 November
1996 di Oxford, Inggris di usia 70
tahun. Ia dimakamkan di tanah air
yang teramat dicintanya. Atas
prestasinya, dunia pantas merugi.
Sebab, Abdus Salam hanya hidup
sekali. Pretasi Salam memang layak
dibanggakan. Ia telah mendedikasikan
dirinya untuk fisika dan kemanusiaan.
Rasanya, semua penghargaan layak
diterimanya. Ia berhasil mengangkat
prestasi kaum muslim yang lama
tenggelam. (M. Khoirul Muqtafa)
prestasinya. Ia telah mengguncang
dunia dengan teori fisikanya. Ia juga telah mengangkat harga diri
masyarakat Islam dan dunia ketiga.
Meski di negerinya sendiri
ditelantarkan, ia tak kecil hati. Dunia
fisika terus ia geluti. Dunia sosial tak lupa ia cicipi. Ia bukanlah tipe
intelektual yang tinggi hati. Kerja
kerasnya berbuah. Ia berhasil
menciptakan teori yang membuat
orang terperangah. Penghargaan
Nobel Fisika pun ia terima sebagai
anugerah. Dialah muslim pertama
peraih Nobel Fisika sepanjang sejarah.
Sosok fenomenal itu bernama Abdus
Salam. Ia dilahirkan pada 29 Januari
1926, di Jhang, Pakistan. Ayahnya,
Hazrat Mohammad Hussein, adalah
seorang pegawai Dinas Pendidikan.
Keluarganya dikenal alim dan saleh.
Sejak kecil, Salam diajar dalam tradisi
pendidikan yang kuat. Ia dikenal
cerdas dan cepat mengingat. Suatu
ketika, Hussein pernah bermimpi. Ia
melihat Salam menaiki pohon yang
sangat tinggi. Ketiga ditegur, Salam
meyakinkan: “Don’t worry”. Ia terus
naik sampai tak kelihatan lagi. Hal ini
nampaknya menjadi tanda. Salam
mempunyai kemampuan yang luar
biasa.
Dan demikianlah adanya. Hampir tiap
malam, ibunya membacakan doa
kepada salam dan saudaranya. Suatu
ketika, ia diinterupsi Salam. Salam
mengatakan, ia sudah tahu dan hafal.
Tak perlu baginya diulang-ulang.
Akhirnya, ibunya sadar. Salam
mempunyai kemampuan fenomenal.
Salam dengan mudah dan tepat
menghafal keseluruhan surat al-
Quran.
Ia masuk sekolah dasar di Jhang
dalam usia 6 tahun. Namun, sungguh
mencengangkan. Ketika dites, Salam
menunjukkan kecerdasan yang tak
diragukan. Kepala Sekolah pun
langsung menyuruhnya masuk kelas
empat. Di sini, Salam tak menemukan
kendala berat. Meski dicampur
dengan siswa yang lebih tua darinya,
ia tetap mengkilat. Atas keajaiban anak
ini, Hazrat Hussein yakin, sekolah lokal
tidak akan cukup menampungnya.
Ayahanda Salam pun berusaha sekuat
tenaga untuk mengirim Salam ke
sekolah negeri yang lebih mumpuni.
Sebab itu, Salam dikirim ke Lahore,
1938. Kota ini terkenal karena
mahakarya di bidang arsitektur
Muslim abad pertengahan. Di sana,
Salam banyak belajar dan
menemukan hal baru yang tak ada di
desanya. Lampu listrik adalah
contohnya. Ia sangat kagum atas hal
ini. Ia pun bertekad belajar giat.
Di Lahore, kembali kecerdasan Salam
terdeteksi. Salam mengikuti ujian
matrikulasi di Punjab University. Ia
lulus dengan pujian pada 1946. Salam
tercatat sebagai siswa dengan nilai
teratas dalam segala mata ujian. Atas
prestasinya itu, ia memperoleh
beasiswa untuk melanjutkan
pendidikan ke Cambridge University,
Inggris. Pada 1949, ia memperoleh
gelar MA dengan pujian tertinggi di
bidang matematika dan fisika.
Semenjak itu, cendekiawan muda ini
sibuk dengan penelitian awal dalam
bidang Fisika Kuantum di
Laboratorium Cavendish yang
terkenal. Laboratorium ini telah
banyak menghasilkan lusinan peraih
Nobel. Di Cavendish, Salam meneliti
berbagai fenomena dan proses
alamiah seperti pembelahan nukleus,
formasi bintang- bintang neutron,
pembentukan komposisi kimiawi dan
struktur dari spiral DNA, cara kerja
transistor semi konduktor, laser dan
sebagainya.
Pada 1950, ia memperoleh peng
hargaan Smith’s Prize dari Cambridge
University atas tesisnya tentang elek
trodinamika kuantum. Tesisnya
dianggap telah memberikan
kontribusi besar dalam bidang fisika.
Dia juga berhasil menyabet gelar PhD
dalam bidang fisika teori pada saat
yang sama. Tesisnya dipublikasikan
pada 1951. Serta-merta, tesis itu
mengangkatnya menuju belantara
intelektual internasional. Ia pun
menjadi fokus perhatian seluruh
komunitas fisika dunia. Untuk itu, ia
memperoleh berbagai penawaran
menggiurkan di Eropa.
Namun, Salam memilih kembali ke
negerinya. Ia mengajar matematika di
Government College, Lahore. Setahun
kemudian, ia dilantik menjadi Ketua
Departemen Matematika di Punjab
University. Ia bermaksud mendirikan
sekolah riset bagi para ahli fisika di
Pakistan. Namun, ia sadar, hal itu tak
mungkin dilakukan. Tidak ada tradisi
kerja dan riset pascasarjana di situ.
Jurnal tak punya. Kesempatan
menghadiri konferensi internasional
pun tak ada. Malah, ia dituduh hendak
membangun hotel berbintang lima
bagi para ilmuwan di sana. Kepala
institusi tempat Salam bekerja juga tak
berdaya. Meski tahu bahwa Salam
sudah mengerjakan sejumlah riset
yang luar biasa, Kepala tersebut justru
menganjurkan untuk melupakan
obsesinya.
Salam bertahan di Lahore selama tiga
tahun. Namun, kondisi yang tak
kondusif meyakinkannya bahwa di
Pakistan, saat itu, sangat tidak
mendukung riset-riset fisika. Akhirnya,
dengan berat hati, Salam
meninggalkan Pakistan pada 1954. Ia
menerima tawaran mengajar dan riset
di Cambridge University. Di situ, ia
menemukan kembali dunianya yang
hilang. Ia kembali bergelut dan
bercinta dengan fisika. Tiga tahun
kemudian, tepatnya 1957, Salam
dilantik sebagai Profesor Fisika Teori di
Imperial College, London. Sejak itu,
secara aktif, ia meretas jalan ke riset
berbagai bidang fisika modern. Studi
yang dilakukannya mendapat
penghargaan berbagai premium
internasional.
Meski hasrat intelektualnya telah
tersalurkan, Salam tak tinggal diam.
Kegundahan atas kondisi Pakistan dan
masyarakat dunia ketiga umumnya,
terus menggelayutinya. Ia pun berpikir
keras untuk membantu mereka.
Sebab, tak mungkin muncul
penemuan penting ketika tak ada
fasilitas yang mendukung. Para
peneliti di sana pun tak akan
berkembang. Jauh ketinggalan dengan
para peneliti di Eropa dan negara
maju lainnya. Ia pun bermaksud
mendirikan lembaga internasional
yang akan mewadahi intelektual
berbakat dari dunia ketiga tanpa harus
meninggalkan negerinya sendiri
seperti dialami Salam.
Karena itu, Salam mendesak kolega-
koleganya di Eropa dan Amerika untuk
mendirikan lembaga seperti yang
diimpikannya. Atas bantuan PBB,
khususnya Lembaga Energi Atom
Internasional, pemerintah Italia dan
SIDA (Swedish Agency for
International Development)
didirikanlah ICPT (International Centre
for Theoritical Physics) di Trieste, Italia
pada 1964. Salam sendiri ditunjuk
sebagai direkturnya. Pendirian ICTP
itu, menurut Herwing Schopper,
presiden Masyarakat Fisika Eropa,
merupakan salah satu pencapaian
terbesar abad ke-20.
Satu obsesinya telah tercapai. Praktis,
semenjak itu ia tenggelam dalam
penelitian. Secara tekun, Salam mulai
mempelajari hukum dasar dari
elektromagnetisme yang pertama kali
ditemukan oleh Faraday dan Maxwell,
lama sebelumnya. Salam menggeluti
masalah interaksi tiga daya kekuatan
elektromagnetik, daya lemah dan daya
kuat dari nuklir. Untuk itu, Salam harus
‘membantah’ salah satu postulat fisika
nuklir modern yang diterima umum
tentang kekuatan dan
ketidakterbaginya proton yang
merupakan komponen utama dari
nukleus nuklir. Hasilnya, Salam
mengajukan suatu hipotesa yang
berani. Menurutnya, proton (yang
menyimpan kekuatan nukleus dari
sebuah atom) bisa saja mengalami
disintegrasi. Hanya saja, durasi
peluruhan proton ini memerlukan
periode waktu yang astronomis, yakni
1032 tahun.
Dari situ, Salam berhasil membuat
gambaran konstruksi dari suatu teori
yang menggabungkan
elektromagnetisme dengan interaksi
lemah dari partikel nuklir yang
terkenal dengan “Grand Unification
Theory”. Albert Einstein sendiri yang
dikenal sebagai “Nabi” Fisika tak
berhasil menciptakan teori tersebut
sepanjang hidupnya. Ialah orang
pertama yang memprediksi decay
(peluruhan) dalam rangkaian interaksi
nuklir lemah. Muncullah istilah baru
yaitu ‘Electroweak’ (lemah elektro)
dalam dunia fisika nuklir. Atas
penemuan besar ini, Salam berhak
atas Nobel Fisika pada 1979.
Konon, penemuan grand unification
theory itu terinspirasi dari keyakinan
Salam bahwa segala sesuatu
terpancar dari satu sumber, yakni
Tuhan. Maklum, Salam adalah
agamawan taat. Dalam tiap
kesempatan, ia selalu berujar, al
Qur’an telah menyediakan segala-
galanya untuk eksplorasi alam. ‘’Al
Quran membimbing kita dalam
memahami seluruh hukum alam
ciptaan Allah,’’ tulisnya. Karena itu,
pada saat penghargaan Nobel, Salam
mentilawahkan beberapa ayat dari al-
Quran dalam pidatonya di aula Nobel
Hall. Inilah pertama kalinya dalam
sejarah, di aula itu, diperdengarkan
ayat-ayat al-Quran.
Sebelum meraih Nobel, berbagai
penghargaan telah disabet Salam atas
prestasi fisikanya. Pada 1971, secara
aklamasi, ia terpilih sebagai anggota
dari USSR Academy of Science. Pada
tahun yang sama, ia juga berhak atas
hadiah Premium Robert
Oppenheimer. Ia juga berhasil
merebut medali Einstein (UNESCO,
Paris) dan Birla Premium (India).
Berbagai penghargaan itu terasa
wajar karena prestasi Salam yang
sangat luar biasa. Namun, Nobel tak
menghentikannya untuk terus
berkiprah. Pada 1983, ia memperoleh
penghargaan Lomonosov Gold Medal
yang merupakan penghargaan
tertinggi dari USSR Academy of
Science. Pada tahun itu juga, Salam
mendirikan dan menjadi presiden The
Third World Academy of Sciences, dan
presiden pertama The Third World
Network of Scientific Organizations
(1988).
Sebagai wujud kepedulian atas carut
marut kondisi dunia, Profesor Abdus
Salam turut mengambil bagian dalam
sebuah konferensi internasional di
Moskow mengenai pengurangan
senjata nuklir pada 1987. Di
konferensi itu, secara tegas, ia
mendukung larangan penggunaan
senjata pemusnah massal. Ia selalu
menghimbau komunitas dunia agar
memanfaatkan potensi studi tenaga
nuklir hanya untuk tujuan damai dan
konstruktif saja.
Berbagai pujian dan penghargaan
terus mengucur. Tahun 1992, rektor
dari St Petersburg University secara
khusus berkunjung ke Trieste, Italia,
untuk menyampaikan Diploma
Honorer Doctor of Science dari
universitas tersebut kepada Profesor
Salam. Di tahun 1995, setahun
sebelum meninggal, ia mendapat
penghargaan Maxwell di Inggris serta
medali emas yang diberikan oleh
Akademi Pekerja Kreatif Rusia.
Semasa hidupnya, Abdus Salam telah
menghasilkan banyak karya. Salam
telah menulis berpuluh-puluh buku
dan monograf ilmiah. Ia juga menulis
lebih dari tiga ratus artikel mengenai
problema paling kompleks dari fisika
nuklir serta permasalahan aktual
mengenai persiapan ilmuwan muda
di negara-negara berkembang. Atas
dedikasinya, ia ditunjuk sebagai
anggota dari sekitar 50 lembaga ilmiah
akademisi, di samping beberapa
asosiasi ilmiah dunia. Ia mendapat 20
penghargaan internasional dan
medali emas di bidang fisika.
Termasuk Nobel Prize itu sendiri.
Sedikit sekali ahli fisika di abad
duapuluh yang pernah menerima
penghargaan dan pengakuan dunia
sebagaimana Salam. Di antaranya
adalah Albert Einstein, Ernest
Rutherford dan Niles Bore.
Salam meninggal pada 20 November
1996 di Oxford, Inggris di usia 70
tahun. Ia dimakamkan di tanah air
yang teramat dicintanya. Atas
prestasinya, dunia pantas merugi.
Sebab, Abdus Salam hanya hidup
sekali. Pretasi Salam memang layak
dibanggakan. Ia telah mendedikasikan
dirinya untuk fisika dan kemanusiaan.
Rasanya, semua penghargaan layak
diterimanya. Ia berhasil mengangkat
prestasi kaum muslim yang lama
tenggelam. (M. Khoirul Muqtafa)
No comments:
Post a Comment