Thursday, 6 September 2012

Memudarnya Teladan di Negeri Ini


Imbauan, perintah, instruksi, dan
khotbah tentang pentingnya
kerukunan telah sering disampaikan
kepada masyarakat. Tetapi, yang lebih
dari itu semua adalah contoh atau
teladan yang nyata. Contoh dimaksud
mesti datang dari para pemimpinnya,
baik pemimpin formal maupun
nonformal. Teladan itulah yang
rupanya mulai memudar di negeri ini.
Melalui media massa atau jejaring
sosial, dengan mudah kita dapatkan
informasi tentang konflik yang terjadi
di kalangan pemimpin bangsa ini.
Berbagai persoalan bangsa
diselesaikan secara terbuka lewat
konflik, perseteruan, saling curiga,
tuduh-menuduh, saling menjatuhkan
antarsesama, dan lainnya. Bahkan,
melalui caranya sendiri, di antara
mereka menghina sesama dianggap
sebagai sesuatu yang biasa. Mereka
berdalih, di zaman demokrasi yang
terbuka semua itu adalah hal yang
wajar.
Orang tua pada zaman dulu,
sekalipun tidak berpendidikan tinggi,
memiliki kearifan yang tinggi. Mereka
menganggap dalam kehidupan sosial
selalu membutuhkan contoh atau
teladan. Tidak boleh dalam keluarga,
apalagi komunitas yang lebih luas,
bila tak memiliki orang-orang yang
bisa dijadikan teladan.
Karena itu, agar kesalahan sang
teladan itu tidak diketahui orang lain
dan anak-anaknya, maka mereka akan
menunggu waktu yang tepat untuk
menyampaikannya. Orang pedesaan
di Jawa menyebutnya nunggu
sepining gegodongan runtuh. Artinya,
pembicaraan penting yang
dikhawatirkan akan melahirkan
dampak negatif, hendaknya
disampaikan dengan hati-hati dan tak
boleh ada orang lain mengetahuinya.
Hal itu bertolak belakang dengan
keadaan sekarang. Penyelesaian
problem, baik yang berat dan apalagi
yang ringan, justru diselesaikan secara
terbuka, dan bahkan disiarkan
langsung melalui media massa. Orang
yang berselisih dipertontonkan di
muka umum, tidak terkecuali
perselisihan di antara para pemimpin
bangsa yang seharusnya menjaga
kehormatannya. Akibatnya, rakyat
menjadi tahu dengan jelas, siapa
lawan siapa, karena konflik dilakukan
secara terbuka.
Dalam keadaan seperti itu, rasanya
memang agak sulit menjadikan
bangsa ini benar-benar bisa hidup
damai, tenteram, saling menghargai,
menghormati dan memuliakan.
Masing-masing saling membidik dan
menjatuhkan.
Gejala lain yang juga sangat
memprihatinkan adalah nafsu untuk
menguasai dan menenggelamkan
kelompok lain. Padahal, kita dikenal
sebagai bangsa yang majemuk (plural)
dengan beragam suku bangsa, etnis,
bahasa, adat istiadat, dan agama.
Mestinya perbedaan itu tidak
dijadikan alasan untuk meninggalkan
atau menjatuhkan pihak lain.
Karenanya, para pemimpin bangsa ini
harus memberi contoh terbaik untuk
menyatukan semuanya. Mengajak
seluruh elemen bangsa untuk bersatu
padu menjaga kedamaian dan
keamanan. Manakala ada persoalan
maka diselesaikan dengan cara dialog
dan tabayun (kroscek).
Jika memilih pejabat maka ukurannya
adalah keluasan wawasan, ilmu,
profesionalitas, integritas, dan bukan
atas pertimbangan asal-usul dan kesa
maan organisasi, aliran, dan
semacamnya. Segala perbedaan
harus ditinggalkan. Para pemimpin
harus mampu mengayomi betapa
pentingnya kebersamaan dan
kerukunan itu. Rakyat membutuhkan
keteladanan dari pemimpinnya untuk
hidup rukun. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment