Wednesday, 5 September 2012

Berfokus Pada Kelebihan Diri


“Anak-anak, coba tuliskan tiga
kelebihanmu, ” kata seorang guru
yang hari itu menjadi pembimbing
retreat bagi anak-anak sekolah dasar.
Menit demi menit berlalu namun
anak-anak itu seakan masih bingung.
Dengan setengah berakting, sang
guru kemudian bersuara keras : “Ayo,
tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya
sobek lo.” Anak-anak manis itu
seketika menjadi salah tingkah.
Beberapa di antara mereka, memang
tampak mulai menulis. Salah satu di
antara mereka menulis di atas kertas,
“Kadang-kadang nurutin kata ibu.
Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-
kadang nyuapin adik makan.”
Penuh rasa penasaran, sang guru
bertanya kepadanya : “Kenapa
tulisnya kadang-kadang? “. Dengan
wajah penuh keluguan, sang bocah
hanya berkata : “Emang cuma kadang-
kadang, pak guru”
Ketika semua anak telah menuliskan
kelebihan dirinya, sang guru
kemudian melanjutkan instruksi
berikutnya : “Sekarang anak-anak,
coba tuliskan tiga kelemahanmu atau
hal-hal yang buruk dalam dirimu.”
Seketika ruangan kelas menjadi
gaduh. Anak-anak tampak
bersemangat. Salah satu dari mereka
angkat tangan dan bertanya : “Tiga
saja, pak guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab
pak guru. Anak tadi langsung menyambung : “Pak guru, jangankan
tiga, sepuluh juga bisa!”.
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari
cerita sederhana itu? Saya
menangkap setidaknya ada beberapa
hal penting yang bisa kita pelajari.
Salah satunya, kita sering tidak
menyadari apa kelebihan diri kita
karena lingkungan dan orang di
sekitar kita jauh lebih sering
mengkomunikasikan kepada kita
kejelekan dan kekurangan kita.
Baru-baru ini, saya dan istri saya
menyaksikan di sebuah televisi swasta
pertunjukkan seni dari para
penyandang cacat. Kami benar-benar
terharu. Ada orang buta yang begitu
piawai bermain piano atau kecapi. Pria
tanpa lengan dan wanita muda yang
tuli dapat menari dengan begitu
indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari
dengan penuh penghayatan. Yang
membuat saya heran, dia kan tuli tapi
kok bisa mengikuti irama lagu dengan
sangat tepat?”, kata istri saya
terkagum-kagum.
Seorang pria buta yang bernyanyi
dengan nada merdu sempat berkata,
“Saudaraku, saya memiliki dua mata
seperti Anda. Namun yang ada di
depan saya hanyalah kegelapan. Ibu
saya mengatakan saya bisa bernyanyi,
dan ia memberi saya semangat untuk
bernyanyi.”
Benarlah apa yang dikatakan
Alexander Graham Bell : “Setelah satu
pintu tertutup, pintu lainnya terbuka;
tetapi kerap kali kita terlalu lama
memandangi dan menyesali pintu
yang telah tertutup sehingga kita tidak
melihat pintu yang telah dibuka.

No comments:

Post a Comment