Wednesday, 5 September 2012

Orang yang Menyumbang Emas di Puncak Api Tugu Monas

(Teuku Markam) Sebelah kanan
Ternyata 38 kg emas yang dipajang di
puncak tugu Monumen Nasional
(Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya
adalah sumbangan dari salah seorang
saudagar Aceh yang pernah menjadi
orang terkaya Indonesia, Teuku
Markam.
Orang-orang hanya tahu bahwa emas
tersebut memang benar sumbangan
saudagar Aceh. Namun tak banyak
yang tahu, bahwa Teuku Markam-lah
saudagar yang dimaksud itu.
Itu baru segelintir sumbangan Teuku
Markam untuk kepentingan negeri ini.
Sumbangsih lainnya, ia pun ikut
membebaskan lahan Senayan untuk
dijadikan pusat olah raga terbesar
Indonesia.
Tentu saja banyak bantuan-bantuan
Teuku Markam lainnya yang pantas
dicatat dalam memajukan
perekonomian Indonesia di zaman
Soekarno, hingga menempatkan
Markam dalam sebuah legenda.
Di zaman Orba, karyanya yang
terbilang monumental adalah
pembangunan infrastruktur di Aceh
dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda
Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh,
Tapaktuan dan lain-lain adalah karya
lain dari Teuku Markam yang didanai
oleh Bank Dunia.
Mengingat peran yang begitu besar
dalam percaturan bisnis dan
perekonomian Indonesia, Teuku
Markam pernah disebut-sebut sebagai
anggota kabinet bayangan
pemerintahan Soekarno. Peran
Markam menjadi runtuh seiring
dengan berkuasanya pemerintahan
Soeharto.
Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta

kekayaannya diambil alih begitu saja
oleh Rezim Orba. Pernah mencoba
bangkit sekeluar dari penjara, tapi
tidak sempat bertahan lama.
Tahun 1985 ia meninggal dunia.
Aktivitas bisnisnya ditekan habis-
habisan. Ahli warisnya hidup terlunta-
lunta sampai ada yang menderita
depresi mental. Hingga kekuasaan
Orba berakhir, nama baik Teuku
Markam tidak pernah direhabilitir.
Anak-anaknya mencoba bertahan
hidup dengan segala daya upaya dan
memanfaatkan bekas koneksi-koneksi
bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli
waris Teuku Markam tengah berjuang
mengembalikan hak-hak orang
tuanya.
Mengenal Lebih Dekat Sosok Teuku
Markam?
Teuku Markam turunan uleebalang.
Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku
Marhaban. Kampungnya Seuneudon
dan Alue Capli, Panton Labu Aceh
Utara. Sejak kecil Teuku Markam
sudah menjadi yatim piatu.
Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban
meninggal dunia. Sedangkan ibunya
telah lebih dulu meninggal. Teuku
Markam kemudian diasuh kakaknya
Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap
pendidikan sampai kelas 4 SR
(Sekolah Rakyat).
Teuku Markam
Teuku Markam tumbuh lalu menjadi
pemuda dan memasuki pendidikan
wajib militer di Koeta Radja (Banda
Aceh sekarang) dan tamat dengan
pangkat letnan satu. Teuku Markam
bergabung dengan Tentara Rakyat
Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran
di Tembung, Sumatera Utara
bersama-sama dengan Jendral Bejo,
Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin
dan lain-lain.
Selama bertugas di Sumatera Utara,
Teuku Markam aktif di berbagai
lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut
mendamaikan clash antara pasukan  Simbolon dengan pasukan Manaf
Lubis.
Sebagai prajurit penghubung, Teuku
Markam lalu diutus oleh Panglima
Jenderal Bejo ke Jakarta untuk
bertemu pimpinan pemerintah. Oleh
pimpinan, Teuku Markam diutus lagi
ke Bandung untuk menjadi ajudan
Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu
diemban Markam sampai Gatot
Soebroto meninggal dunia.
Adalah Gatot Soebroto pula yang
mempercayakan Teuku Markam untuk
bertemu dengan Presiden Soekarno.
Waktu itu, Bung Karno memang
menginginkan adanya pengusaha
pribumi yang betul-betul mampu
menangani masalah perekonomian
Indonesia.
Tahun 1957, ketika Teuku Markam
berpangkat kapten (NRP 12276), ia
kembali ke Aceh dan mendirikan PT
Karkam. Ia sempat bentrok dengan
Teuku Hamzah (Panglima Kodam
Iskandar Muda) karena "disiriki" oleh
orang lain.
Akibatnya Teuku Markam ditahan dan
baru keluar tahun 1958. Pertentangan
dengan Teuku Hamzah berhasil
didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.
Keluar dari tahanan, Teuku Markam
kembali ke Jakarta dengan membawa
PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya
oleh Pemerintah RI mengelola
rampasan perang untuk dijadikan
dana revolusi.
Selanjutnya Teuku Markam benar-
benar menggeluti dunia usaha
dengan sejumlah aset berupa kapal
dan beberapa dok kapal di
Palembang, Medan, Jakarta, Makassar,
Surabaya.
Bisnis Teuku Markam semakin luas
karena ia juga terjun dalam ekspor -
impor dengan sejumlah negara.  Antara lain mengimpor mobil Toyota
Hardtop dari Jepang, besi beton, plat
baja dan bahkan sempat mengimpor
senjata atas persetujuan Departemen
Pertahanan dan Keamanan
(Dephankam) dan Presiden.
Komitmen Teuku Markam adalah
mendukung perjuangan RI
sepenuhnya termasuk pembebasan
Irian Barat serta pemberantasan buta
huruf yang waktu itu digenjot habis-
habisan oleh Soekarno.
Hasil bisnis Teuku Markam konon juga
ikut menjadi sumber APBN serta
mengumpulkan sejumlah 28 kg emas
untuk ditempatkan di puncak
Monumen Nasional (Monas).
Sebagaimana kita tahu bahwa proyek
Monas merupakan salah satu impian
Soekarno dalam meningkatkan harkat
dan martabat bangsa.
Peran Teuku Markam menyukseskan
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia
Afrika tidak kecil berkat bantuan
sejumlah dana untuk keperluan KTT
itu.
Teuku Markam termasuk salah satu
konglomerat Indonesia yang dikenal
dekat dengan pemerintahan Soekarno
dan sejumlah pejabat lain seperti
Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam
Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin
Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman,
pengusaha Probosutedjo dan lain-
lain.
Pada zaman Soekarno, nama Teuku
Markam memang luar biasa populer.
Sampai-sampai Teuku Markam
pernah dikatakan sebagai kabinet
bayangan Soekarno.
Sejarah kemudian berbalik. Peran dan
sumbangan Teuku Markam dalam
membangun perekonomian
Indonesia seakan menjadi tiada
artinya di mata pemerintahan Orba. Ia
difitnah sebagai PKI dan dituding
sebagai koruptor dan Soekarnoisme.
Tuduhan itulah yang kemudian
mengantarkan Teuku Markam ke
penjara pada tahun 1966. Ia  dijebloskan ke dalam sel tanpa ada
proses pengadilan.
Pertama-tama ia dimasukkan tahanan
Budi Utomo, lalu dipindahkan ke
Guntur, selanjutnya berpindah ke
penjara Salemba, Jl. Percetakan
Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan
Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke
tahanan Nirbaya, tahanan untuk
politisi di kawasan Pondok Gede
Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh
sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD
Gatot Subroto selama kurang lebih
dua tahun.
Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke
Soeharto membuat hidup Teuku
Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia
baru bebas tahun 1974. Ini pun,
kabarnya, berkat jasa-jasa baik dari
sejumlah teman setianya.
Teuku Markam dilepaskan begitu saja
tanpa ada kompensasi apapun dari
pemerintahan Orba. "Memang betul,
saat itu Teuku Markam tidak akan
menuntut hak-haknya. Tapi waktu itu
ia kan tertindas dan teraniaya," kata
Teuku Syauki Markam, salah seorang
putra Teuku Markam.
Soeharto selaku Ketua Presidium
Kabinet Ampera, pada 14 Agustus
1966 mengambil alih aset Teuku
Markam berupa perkantoran, tanah
dan lain-lain yang kemudian dikelola
PT. PP Berdikari yang didirikan
Suhardiman untuk dan atas nama
pemerintahan RI.
Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran
Zamzami (dua orang terakhir ini
adalah tokoh Aceh di Jakarta)
termasuk teman-teman Markam.
Namun tidak banyak menolong
mengembalikan asset PT Karkam.
Justru mereka ikut mengelola aset-
aset tersebut di bawah bendera PT PP
Berdikari.
Suhardiman adalah orang pertama
yang memimpin perusahaan tersebut.
Dijajaran direktur tertera
Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan
Amran Zamzami. Selanjutnya PP  Berdikari dipimpin Letjen Achmad
Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan
Bustanil Arifin SH.
Pada tahun 1974, Soeharto
mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun
1974 yang isinya antara lain
penegasan status harta kekayaan eks
PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi
yang diambil alih pemerintahan RI
tahun 1966 berstatus "pinjaman" yang
nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai
penyertaan modal negara di PT. PP
Berdikari. Kepres itu terbit persis pada
tahun dibebaskannya Teuku Markam
dari tahanan.
Proyek Bank Dunia
Sekeluar dari penjara, tahun 1974,
Teuku Markam mendirikan PT. Marjaya
dan menggarap proyek-prorek Bank
Dunia untuk pembangunan
infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat.
Tapi tidak satupun dari proyek-proyek
raksasa yang dikerjakan PT Marjaya
baik di Aceh maupun di Jawa Barat,
mau diresmikan oleh pemerintahan
Soeharto.
Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain
pembangunan Jalan Bireuen -
Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan,
Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-
lain.
Teuku Syauki menduga, Rezim Orba
sangat takut apabila Teuku Markam
kembali bangkit. Untuk itulah, kata
Teuku Syauki, proyek-proyek Markam
"dianggap" angin lalu.
Teuku Markam meninggal tahun 1985
akibat komplikasi berbagai penyakit di
Jakarta. Sampai akhir hayatnya,
pemerintah tidak pernah
merehabilitasi namanya. Bahkan
sampai sekarang.

No comments:

Post a Comment